Tampilkan postingan dengan label Keuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keuangan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juni 2012

CARA BIJAK MENGELOLA KARTU KREDIT

Meski cuma sepotong plastik, kartu kredit bisa membuat hidup lebih nyaman, asal dikelola secara betul. Kalau tidak, kenyamanan itu bisa berbaik jadi beban karena harus menanggung bebagai biaya yang tak perlu. Diperlukan kearifan yang harus dilakukan bagi pemegang kartu kredit.




Beberapa tips bagi kartu kredit :

1. Gunakan kartu kredit sebagai uang plastik bukan kartu hutang, karena akan mempermudah kita dalam bertransaksi dalam jumlah besar misalnya Rp. 2.000.000,- maka kita tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar.perlu diingat kartu kredit adalah alat pembayaran bukan kartu hutang.

2. Manfaatkan fasilitas yang terdapat dalam kartu kredit Pembayaran dalam satu tagihan seperti pembayaran air, PLN, Telephon, TV berlangganan, internet dll, sehingga kita mempermudah kita karena seluruh tagihan dalam satu biling. Manfaatkan fasilitas lainnya seperti Executif Lounge di Bandara.

4. Jika harus berhutang dengan kartu kredit maka kita harus jeli atas kemampuan kita membayar, membayar minimum payment hanyalah akan membayar bunganya saja dan tidak mengurangi pokoknya ataupun hanya menguranginya pokok hanya sedikit.Bunga yang diterapkan Kartu Kredit 3,5% / bulan untuk transaksi barang dan 4%/ bulan untuk penarikan tunai, bunga yang sangat tinggi.

Oleh sebab itu jika dirasakan tidak mungkin membayar dalam waktu dekat, ubahlah transaksi anda menjadi cicilan tetap berjangka waktu, sesuaikan jangka waktu dengan kemampuan kita.

5. Kartu Kredit juga dapat dapat dipergunakan untuk keperluan mendesak atau emergency, misalnya untuk membayar rumah sakit, sementara uang cash tidak mencukupi atau mesin ATM jauh dari rumah sakit, maka kartu kredit akan dapat dipergunakan sebagai bantuan darurat.

6. Membayar tagihan kartu kredit tepat jatuh tempo, ini untuk menhindari pemegang kartu terlilit bunga yang tinggi.biasaya penerbit kartu memberi masa bebas bunga ada yang sampai 48 hari, setelah lewat masa itu pemegang kartu akan dikenakan bunga.

7. Maksimal dua kartu, karena memiliki lebih dari 2 kartu kredit adalah tidak menguntungkan karena akan terbebani oleh iuran tahun, lebih baik memiliki 1 kartu kredit dengan limit yang besar lebih menguntungkan daripada memiliki kartu kredit banyak namun limitnya kecil.

8. Pengendalian diri sangat diutamakan sebagai pemegang kartu kredit untuk terhindar dari lilitan hutang dan kejaran debtkolektor.

Sikap Positif dalam memberlakukan kartu kredit, pemegang kartu akan ikut membantu mengurangi peluang munculnya keluhan.

Semoga bermanfaat …

sumber : dari berbagai sumber
Penulis juga pemegang kartu kredit, yang juga pernah merasakan beratnya tanggungan yang diakibatkan oleh kartu kredit

Selasa, 23 Agustus 2011

BIJAK DALAM MENGELOLA DANA THR


Lebaran dan THR merupakan dua hal yang selalu dinantikan pada bulan Romadhon. Menjelang hari raya, biasanya perusahaan akan membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada para karyawanya. Ini kisah lama yang kerap berulang. Begitu Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran berakhir, banyak keluarga penerima uang THR (Tunjangan Hari Raya) menghadapi kesulitan keuangan. Walaupun ada tambahan pemasukan, namun tidak diimbangi dengan banyaknya pengeluaran bahkan kadang lebih besar ibarat pepatah "BESAR PASAK DARIPADA TIANG", ada yang disebabkan tergiur dengan godaan Diskon besar-besaran yang diterapkan dihampir semua toko dan swalayan, maka disadari maupun tidak malah menjadikan keuangan menjadi defisit.

Ternyata, selain cara mengelola, cara pandang yang keliru terhadap uang THR juga menjadi penyebabnya. Uang hasil kerja keras pun seperti menyimpan bom waktu yang meletus ketika Lebaran usai.

Hingga saat ini masih banyak orang memandang uang THR sebagai uang tambahan pendapatan di luar gaji. Banyak pula yang memandang uang THR sebagai hadiah cuma-cuma yang diberikan oleh perusahaan atau insitusi tempat seseorang bekerja, untuk memenuhi keperluan merayakan Lebaran belaka.
Permenaker tentang THR juga menyebutkan bahwa THR diberikan dalam rangka menciptakan ketenangan usaha, meningkatkan kesejahteraan pekerja serta menimbulkan kondusifitas investasi. Maknanya uang THR bukanlah uang cuma-cuma yang bisa digunakan semaunya sekalipun dia diberikan menjelang masa Lebaran.

Sebenarnya merupakan hal wajar jika menjelang hingga Lebaran setiap keluarga memerlukan biaya tambahan untuk merayakannya. Namun sering terjadi, banyak keluarga yang sudah berusaha keras mengelola uang THR dengan baik pun tetap saja berlaku boros. Akibatnya pengeluaran pun membengkak. Umumnya pembengkakan pengekuaran terjadi karena konsumsi dan berbagai kegiatan yang berbiaya juga meningkat.

Jika dalam kehidupan sehari-hari, setiap keluarga mampu mengelola gaji bulanan dengan baik, maka logikanya juga akan mampu mengelola uang THR dengan baik pula. Oleh sebab itu setiap keluarga perlu memiliki kemampuan mengelola uang THR dengan baik. Bahkan bukan hal yang mustahil bahwa sebagian dari uang THR itu bisa ditabung.

Selain patut menyadari bahwa uang THR bukanlah uang cuma-cuma, setiap keluarga juga perlu menyadari jumlah uang THR yang diterima tidaklah sebesar gaji bersih satu bulan. Sebab uang yang diterima akan dikurangi pajak. Misalnya gaji setelah pajak sebesar Rp 3 juta maka THR yang diterima pasti dibawah Rp 3 juta karena dipotong pajak setahun.
Cara bijak mengelola dana THR

1. BUATLAH DAFTAR KEWAJIBAN
Susunlan daftar keperluan apa saja yang harus dipenuhi seperti harus dibayar seperti utang, termasuk kartu kredt; asuransi yang jatuh tempo; dan uang THR untuk orang yang bekerja di lingkungan rumah ( sopir, pembantu rumah tangga, tukang kebun dsb).
Pastikan uang disediakan untuk membayar kewajiban ini maksimal 30 persen dari gaji + THR bersih.

Catatan: Langkah (1) ini akan mendatangkan konsekuensi yakni keluarga tidak bisa menikmati uang THR untuk membeli berbagai hal yang diinginkan. Namun keluarga akan merasa lega dan tenang karena tidak memiliki utang atau kesulitan keuangan sesudah Lebaran berakhir. Jangan lupa menyisihkan dana untuk zakat, Infaq dan sodaqoh )

2. BUATLAH ANGGARAN HARI RAYA
Belilah makanan atau bahan makanan untuk Puasa dan Lebaran secara terkendali. Sajikanlah jenis makanan yang memang disukai dan pasti habis atau tidak terbuang.

3. BERSIKAP SEDERHANA
Lebaran tidak harus diidentikkan dengan keharusan memakai pakaian, sepatu dan berbagai perelengkapan baru sehingga biaya untuk hal-hal tersebut bisa dihemat.
Jika kegiatan mudik harus dilakukan, keluarga harus sudah menyiapkan anggarannya terlebih dulu, termasuk dana selama berada di kampung halaman. Perlu dipertimbangkan bahwa biaya transportasi untuk mudik sering naik pada masa-masa Lebaran.

Catatan: Mike Rini, konsukltan keuangan dan penulis buku 120 Solusi Mengelola Keuangan Pribadi menyarankan, kalau seoang pegawai baru belum mendapat THR penuh sementara gajinya pas-pasan, sebaiknya tak perlu memaksakan diri untuk mudik.

4. UTAMAKAN SAVING
Jika suami isteri bekerja maka perlu dibuat kesepakatan, misalnya uang THR suami dipergunakan untuk keperluan Lebaran sedang THR istri ditabung atau diinvestasikan.
Sisihkan uang THR sebesar 10 persen untuk ditabung atau diinvestasikan.

Menurut sejumlah konsultan perencana keuangan seperti Safir Senduk dan Taufik Gumulya, sebuah keluarga harus dapat mengelola uang THR sebagaimana mengelola gaji bulanan biasa (100 persen); minus utang maksimal (30 persen); minus investasi minimal (10 persen) sehingga sisa uang THR yang digunakan untuk berlebaran sebesar 60 persen saja,

Jika pengeluaran mencapai sekitar 120 hingga kurang dari 160 persen atau antara 1,5 - 2,5 pengeluaran normal maka keluarga tersebut (masih) tergolong keluarga yang telah mampu mengelola uang THR secara sehat dan bijak.

Namun jika pengeluaran sebuah keluarga mencapai lebih 160 persen atau di atas 2,5 kali pengeluaran normal, keuangan keluarga tidak tergolong sehat dan dipastikan mengalami kesulitan keuangan pada masa sesudah Lebaran.

Untuk menghindari berbagai godaan untuk lamgsung berbelanja termasuk membeli hal-hal yang tidak diperlukan, sebaiknya uang THR dipindahkan ke rekening yang tidak ber-ATM ( Dari berbagai Sumber )

Kamis, 02 Desember 2010

Tips Motivasi Mario Teguh: Jangan Rendahkan Diri Anda!

Sumber: www.AnneAhira.com

Mario Teguh adalah seorang motivator ulung yang berasal dari kota Malang. Pengucapan bahasa Inggrisnya bagus sekali. Suaranya empuk. Pembawaannya lucu tapi tetap berwibawa. Banyak tips yang sudah dibagikannya, baik di radio, TV maupun facebook dan twitter.


Salah satu tips motivasi Mario Teguh yang hingga kini tetap penulis ingat adalah ‘Jadi kuatlah, jangan pernah merendahkan diri Anda sendiri dan jangan pernah tidak menghargai dan menghormati diri Anda sendiri dengan cara apa pun dalam keadaan apa pun’.

Kalimat itu sangat kuat. Bila kita sendiri tidak menghargai apa yang telah Allah berikan kepada kita, itu berarti kita merendahkan Allah. Ini adalah bentuk kekufuran yang luar biasa akan dibenci oleh Allah. Rasa tak bersyukur dengan tidak menghormati diri sendiri dan selalu merendahkan diri sendiri sama saja dengan menampilkan keputusasaan yang hanya akan dilaknat oleh Allah.


Jadi tegakkan kepala, bersyukurlah dengan cara menghargai diri sendiri. Caranya? Berpakaianlah dengan rapi. Makanlah dengan baik. Belajar, belajar, belajarlah terus-menerus. Allah akan meninggikan orang-orang yang berilmu. Dengan ilmu, penghargaan dan pengakuan dari orang lain akan Anda dapatkan selain Anda menjadi orang yang lebih bermanfaat tentunya.

Lakukan sesuatu untuk lebih menghargai diri sendiri. Sikap tubuh mempengaruhi sikap mental. Bila ingin menjadi orang yang lebih optimis, berjalanlah dengan tegak. Tataplah dunia dengan binar mata yang positif. Keindahan wajah Anda akan tampak bila didukung oleh jiwa dan mental yang kuat.


Lihatlah Barack Obama. Beliau tampak menarik karena cerdas dan simpatik. Bandingkan dengan orang-orang yang dikaruniai keindahan bentuk fisik, tapi tak mengisi fisik tersebut dengan jiwa yang baik, maka orang-orang tersebut tampak menakutkan karena menampilkan kemarahan dan keangkaramurkaan.

Tips motivasi Mario Teguh yang kedua yang penulis ingat adalah ‘Kamu tak harus sibuk menerangkan segala sesuatunya terhadap kritik pedas yang kamu terima  atau kamu tak harus melakukan serangan balik terhadap apa yang dilakukan orang lain kepadamu apabila kamu benar-benar yakin bahwa apa yang telah kamu lakukan tidak melanggar aturan apa pun dan dari siapa pun.’

Kebenaran itu akan berbicara dengan sendirinya. Entah sekarang atau nanti, kebenaran tetaplah kebenaran yang tak mungkin tergantikan walau dunia terbalik dan waktu berhenti. Sibuklah melakukan kebenaran maka suatu saat kesadaran orang lain atas kebenaran yang kita lakukan akan datang. 


Walaupun kita sudah tak berada di dunia ini, kebenaran itu akan tetap hidup dan memproklamirkan dirinya sendiri. Jadi, tidak harus takut melakukan kebenaran. Pun tak harus merasa sakit hati apabila kebenaran itu dianggap kesalahan fatal. Biarkanlah waktu yang akan menampilkan kebenaran tersebut.

‘Perhatikan apa yang akan terjadi’. Ini adalah kata-kata yang hampir selalu beliau ucapkan setelah menyampaikan sebuah tip untuk melakukan sesuatu terutama di acara beliau ‘Golden Ways’ di Metro TV. Mengapa beliau mengajak untuk memperhatikan apa yang akan terjadi?


Beliau sangat yakin bahwa apa pun perbuatan baik itu akan berdampak baik juga pada diri kita sendiri. Jadi bila kebaikan yang diimpikan, berbuat baiklah. Perhatikan apa yang akan terjadi setelah Anda berbuat baik. Balasan Allah akan berlipat. Itu janji Allah dan Allah tak pernah ingkar janji.

Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Kerja Karyawan

Sumber: www.AnneAhira.com

Pengertian Prestasi kerja karyawan


Prestasi kerja tersusun dari dua kata yaitu ‘prestasi’ dan ‘kerja’. Prestasi diartikan sebagai hasil yang diperoleh dari sebuah proses, kegiatan atau aktivitas. Sedangkan kerja bermakna kegiatan membuat atau menyelesaikan sesuatu. Jadi prestasi kerja karyawan adalah hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan tertentu berkaitan dengan tugas pokok yang dilakukan oleh karyawan.


Faktor internal


• Disiplin


Disiplin bermakna tertib, baik cara maupun waktu. Disiplin baik waktu maupun cara sangat mempengaruhi prestasi kerja karyawan. Disiplin cara, mempengarungi prestasi kerja karyawan dalam bentuk kualitas. Sedangkan disiplin waktu akan meningkatkan prestasi kerja karyawan secara kuantitas.


Karyawan yang disiplin mematuhi standart operational prsosedure (SOP) akan menghasilkan hasil kerja yang berkualitas dan rapi sesuai dengan standar kerja yang diinginkan oleh perusahaan. Sementara karyawan yang disiplin mematuhi waktu kerja, maka secara kuantitas hasil kerjanya akan jauh lebih baik. Jadi mental disiplin ikut berperan meningkatkan prestasi kerja karyawan yang bersangkutan.


• Motivasi


Motivasi adalah dorongan yang kuat untuk melaksanakan pekerjaan sebaik mungkin. Atau sederhananya, motivasi sering diartikan sebagai semangat kerja yang tinggi. Pekerjaan yang dilakukan dengan motivasi yang tinggi akan terasa lebih ringan dan jauh dari stress. Hasilnya pun jauh lebih baik baik secara kualitas maupun kuantitas.


• Kecerdasan


Faktor internal lain yang sangat berpengaruh terhadap prestasi kerja karyawan adalah kecerdasan individu tersebut. Karyawan yang cerdas akan dengan mudah memahami SOP tugas yang diberikan kepadanya. Hal tersebut akan meminimalisir error atau kesalahan dalam pekerjaan, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik sesuai dengan standar yang ditetapkan perusahaan.


• Tanggung jawab


Tanggung jawab adalah salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang karyawan. Karyawan yang bertanggung jawab akan berusaha mengerjakan setiap tugas yang diserahkan kepadanya dengan baik dan tepat waktu.


Faktor Eksternal


Selain faktor internal, ada beberapa faktor eksternal yang ikut mempengaruhi prestasi karyawan. Diantaranya yaitu :


• Kondisi keluarga


Kondisi keluarga dapat mempengaruhi suasana hati dan psikologis karyawan. Mau tidak mau secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap motivasi dan kedisiplinan kerja. Kondisi rumah yang tidak tenang, banyak permasalahan akan menurunkan motivasi kerja dan akhirnya berdampak pada kedisiplinan dan prestasi kerja. 


Hal ini otomatis akan menurunkan prestasi kerja. Sebaliknya kondisi rumah yang tenang, bahagia akan memberikan motivasi kerja yang tinggi, jauh dari stress. Hal ini tentu akan berpengaruh positif terhadap prestasi kerja karyawan.


• Lingkungan kerja


Lingkungan kerja sangat berpengaruh terhadap prestasi kerja karyawan. Lingkungan kerja yang nyaman, rekan kerja yang bersahabat dan saling mendukung serta pimpinan yang care akan memberi motivasi positif dalam bekerja. Karyawan akan bahu membahu bekerja dengan penuh keceriaan. Persaingan sehat antar karyawan pun akan mewarnai keseharian dalam perusahaan.


Sebaliknya lingkungan kerja yang tidak nyaman, rekan kerja yang tidak bersahabat, pimpinan yang kurang menghargai karyawan akan menurunkan prestasi kerja. Karyawan pun akan bekerja ogah-ogahan dan tidak bersemangat.


• Pendidikan dan pelatihan


Pendidikan dan pelatihan adalah hak karyawan yang harus diberikan oleh perusahaan. Karyawan yang terdidik dan terlatih sesuai dengan bidangnya akan bekerja lebih cerdas dan baik. Sudah seharusnya setiap perusahaan mengalokasikan dana untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan karyawan secara berkala. Harapannya prestasi kerja karyawan akan terus meningkat, seiring dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan mereka.


Meningkatkan prestasi kerja karyawan


Bagi perusahaan prestasi kerja karyawan sangat penting. Karena sangat terkait erat dengan output yang akan didapat dan keberlangsungan perusahaan ke depannya. Sangat sulit bagi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan besar, jika prestasi kerja karyawannya rendah.


Meningkatkan prestasi karyawan adalah hal yang mutlak dan harus dilakukan. Karena hal tersebut merupakan faktor kunci kesuksesan usaha. Tidak ada artinya menambah modal usaha jika prestasi karyawan tetap jeblok.


Dari penjabaran di atas hal-hal yang mungkin bisa diupayakan untuk meningkatkan perusahaan adalah;


1. Menciptakan lingkungan kerja yang nyaman.


Upaya yang mungkin dapat dilakukan diantaranya adalah membangun sifat kekeluargaan dengan karyawan dengan bertegur sapa antar setiap karyawan, mengadakan acara kekeluargaan dan keagaman secara berkala, atau mengadakan kegiatan seni dan olahraga secara berkala.


2. Memberikan pendidikan dan pelatihan secara berkala


Perusahaan atau pimpinan perlu mempertimbangkan untuk memberikan beasiswa pendidikan kepada karyawan yang dianggap berpotensi. Selain itu, pelatihan rutin secara berkala perlu dilakukan untuk semua karyawan, minimal untuk kembali menyegarkan semangat dan ilmu.


3. Memberikan penyegaran


Memberi kesempatan tour, makan bersama atau jatah cuti kepada setiap karyawan cukup mampu memberikan penyegaran semangat kerja karyawan.

Kenali Gaya Kerja Anda

Sumber: www.AnneAhira.com

Di tempat kerja, hubungan dengan lingkungan sedikit banyak berpengaruh terhadap prestasi kerja. Hubungan dengan lingkungan dipengaruhi dengan bagaimana bentuk interaksi ketika menyelesaikan pekerjaan, maupun hal yang terkait dengan persoalan di luar pekerja.


Bentuk interaksi ketika menyelesaikan pekerjaan dengan atasan, rekan kerja maupun bawahan dikenal dengan istilah gaya kerja.

Gaya kerja dibedakan menjadi 5 tipe yaitu commanding, marginal, indifferent, humanistic dan enlighting.


Seseorang dapat mengetahui kecenderungan gaya kerja yang dominan melalui kuesioner sebagai alat ukur. Dengan mengetahui gaya kerja, seseorang dapat menggunakan kelebihan dan memperbaiki kelemahan.


Commanding

Gaya kerja commanding atau dikenal juga dengan gaya kerja memerintah. Gaya kerja ini berorientasi pada kekuasaan.
Hubungan kerja didasarkan pada pola atasan dan bawahan.


Orang dengan gaya kerja ini cenderung merasa benar sendiri. Gaya kerja ini biasanya diperlukan pada saat keadaan kritis yang memerlukan pengambilan keputusan secara cepat.


Marginal


Gaya kerja marginal berorientasi pada aturan yang harus dipatuhi dan perintah dari atasan. Orang dengan gaya kerja ini biasanya hanya mengikuti perintah dan tidak kreatif. Gaya kerja ini diperlukan pada tempat kerja yang memerlukan orang tipe hanya do-er atau pelaksana.


Indiffirent


Gaya kerja indifferent atau masa bodoh hanya berorientasi pada tugas sendiri. Seseorang dengan gaya kerja dominan indifferent hanya fokus untuk menyelesaikan kewajibannya tanpa peduli pada keadaan sistem secara keseluruhan.


Gaya kerja ini akan tepat diterapkan pada tempat kerja dengan tipikal pekerjaan tak saling bergantung satu dengan lainnya.


Humanistic


Gaya kerja humanistic adalah gaya kerja yang berorientasi pada perasaan. Seseorang dengan gaya kerja ini cenderung untuk menghindari keributan di tempat kerja akibat konflik. Berbeda pendapat adalah sesuatu yang sangat dihindarkan.


Kekurangan dari gaya kerja ini adalah tidak bisanya diambil keputusan secara tegas, apalagi bila waktunya mendesak. Sedangkan kelebihannya adalah membina hubungan yang baik dan kekompakan personil di tempat kerja.


Enlighting


Gaya kerja enlighting merupakan gaya kerja yang dipandang paling ideal untuk diterapkan secara umum. Gaya kerja ini berorientasi pada prestasi atau keberhasilan bersama.


Kelebihan gaya kerja ini pada diskusi, proses sharing ide, evaluasi bersama, dan teamwork yang kuat. Gaya kerja ini akan sesuai dengan tipikal pekerjaan yang melibatkan banyak personil dengan peranan sejajar.


Penerapan gaya kerja sangat ditentukan juga oleh tempat kerja dan tipikal pekerjaan. Tidak ada gaya kerja yang paling baik, tetapi hanya ada gaya kerja yang paling sesuai.

Senin, 13 September 2010

TIPS UNTUK MENDAPATKAN IDE BISNIS

 

Berikut ini adalah beberapa tips yang Anda bisa pakai untuk mendapatkan ide bisnis :

  • Perhatikan produk-produk yang Anda pakai setiap hari. Coba pikirkan bagaimana produk itu bisa diperbaiki? Kebutuhan apa, atau masalah apa yang Anda hadapi yang bisa di jawab dengan produk atau jasa yang saat ini belum ada ?

  • Hadirilah acara-acara networking, seminar, konferensi. Di sana mungkin Anda akan bertemu dengan orang yang mempunyai produk yang bagus atau ide yang bagus yang sedang mencari mitra. Bacalah majalah atau publikasi lain yang membahas industri yang Anda minati.

  • Dapatkan pekerjaan di Industri yang Anda minati. Bekerjalah di sana untuk mendapatkan pengalaman dan membangun jejaring. Sering kali orang mendapatkan ide bisnis dari bisnis-bisnis yang tidak ditindaklanjuti oleh perusahaan tempat mereka bekerja.

  • Carilah mitra kerja yang mempunyai ide bisnis yang bisa Anda perkuat.
Dunia ini penuh dengan kesempatan. Dibutuhkan orang-orang penuh energi dan cerdik untuk menemukannya. Dengan sikap mental yang positif, keinginan untuk sukses, pola pikir yang kukuh, antusiasme yang tinggi dan tidak cepat menyerah Anda akan menemukan, menciptakan dan mendapatkan manfaat dari kemungkinan-kemungkinan dan kesempatan-kesempatan yang Anda impikan.
Setelah Anda punya ide bisnis, pertanyaan berikutnya adalah apakah ide bisnis Anda ini bisa direalisasikan, dalam arti : ada pasar yang membutuhkannya dan siap membeli dan bisnis ini bisa memberikan keuntungan atas investasi (ROI) yang cukup besar. 
Sebelum memulai suatu bisnis, Anda harus memutuskan apa yang akan Anda jual dan bagaimana Anda akan menghasilkan keuntungan. Ide bisnis biasanya telah berkembang di kepala entrepreneur selama beberapa waktu. Pilih bidang usaha yang sesuai dengan minat, pendidikan dan bakat-bakat terbaik Anda. Bidang usaha yang menumbuhkan mimpi-mimpi yang memasok energi dan membuat Anda tetap bersemangat untuk berusaha, terutama jika sejumlah tantangan menghambat langkah ke depan.
Setelah Anda punya ide bisnis, pertanyaan berikutnya adalah apakah ide bisnis Anda ini bisa direalisasikan, dalam arti : ada pasar yang membutuhkannya dan siap membeli dan bisnis ini bisa memberikan keuntungan atas investasi (ROI) yang cukup besar. Untuk mengevaluasi ide bisnis, Anda bisa mencoba menggunakan model MAR (Market, Advantages, Return) yang dikembangkan oleh Ryan sebagai berikut :
Market

  • Apakah ada kebutuhan yang cukup besar atas barang/jasa yang akan Anda sediakan ini ? Yakinkah Anda bahwa kebutuhan ini ada di tempat dimana Anda akan menjualnya?

  • Bagaimana struktur pasarnya ? Apakah pasarnya sangat kompetitif atau pasarnya di monopoli oleh perusahaan tertentu atau beberapa perusahaan tertentu ? Pengetahuan tentang struktur pasar ini sangat diperlukan untuk membangun strategi Anda untuk masuk ke pasar ini.

  • Bagaimana Anda akan memberi harga pada produk/jasa Anda? Apakah anda bisa punya margin keuntungan yang cukup tinggi? Apakah kebutuhan akan produk/jasa Anda ini cukup tinggi sehingga bisa menerima harga yang Anda rencanakan?

  • Berapa besar pasarnya? Apakah cukup besar untuk Anda masuk? Apakah pasarnya sedang tumbuh atau menyusut? Carilah pasar yang akan tumbuh.

  • Apakah pasar siap untuk produk Anda? Anda bisa saja punya produk yang bagus, akan tetapi bila konsumernya tidak siap atau infrastrukturnya belum tersedia, Anda tidak bisa merealisasikan ide cemerlang Anda menjadi bisnis yang sukses saat ini.
Advantages

  • Berapa biaya untuk memproduksi barang/jasa Anda? Bila Anda bisa menemukan cara untuk memproduksi lebih murah dari pesaing, Anda bisa diuntungkan.

  • Berapa biaya untuk memulai bisnis ini? Apakah ada pesaing besar di segmen ini ? Apakah ada regulasi, paten atau modal yang sangat besar yang dibutuhkan sehingga bisa menjadi ganjalan?

  • Apakah Anda mempunyai HKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) yang bisa menguntungkan Anda?

  • Siapa yang akan ada dalam tim Anda ? Berapa banyak orang yang dibutuhkan untuk memulai bisnis ini, apa peran mereka? Bila Anda bisa meyakinkan orang yang sangat berpengalaman duduk sebagai komisaris, atau dalam manajemen puncak, maka Anda akan mempunyai kelebihan. Ingat, ide bisnis Anda nyata hanya bila tim Anda bisa merealisasikannya.

  • Bagaimana Anda akan menjual barang/jasa ini? Apakah Anda akan menjual langsung ke konsumer lewat internet? Atau ke distributor? Atau ke retailer Apabila Anda bisa membangun cara menjual yang unik, ini bisa menjadi kelebihan Anda.
Return

  • Berapa proyeksi keuntungan kotor dan bersih?

  • Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai alur tunai Anda positif ? Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai Anda bisa mencapai breakeven ? Angka-angka ini sangat penting untuk diketahui dan merupaka bagian yang penting dalam rencana bisnis Anda.

  • Berapa banyak investasi yang dibutuhkan untuk memulai bisnis ini ? Besarnya jumlah dana yang dibutuhkan akan menentukan dari mana Anda perlu menggalang dana. Usahakan agar Anda bisa memulai bisnis Anda dengan biaya sekecil mungkin. Bila memungkinkan mulai lah dengan dana pribadi Anda. Bila Anda suda bisa menghasilkan pendapatan, Anda akan lebih mudah menggalang dana tanpa perlu melepaskan terlalu banyak kepemilikan.

  • Bagaimana Strategi Exit Anda? Apakah nantinya Anda merencanakan untuk menjual perusahaan Anda atau akan masuk ke bursa saham? Bagaimana investor Anda akan mendapatkan uangnya kembali? Apakah dari penjualan saham? Atau dari dividen yang dibayarkan setiap kuartal?

  • Bagaimana ROI (Return On Investment) yang Anda proyeksikan? Apakah angka ini akan cukup menarik bagi Investor Anda? Berapa lama perioda pengembaliannya?
Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, Anda akan punya gambaran apakah ide bisnis Anda bisa dilaksanakan, artinya ada kebutuhan di pasar, pasarnya siap dan bisnis ini bisa memberikan pengembalian investasi yang bagus. Bila ya, saya ucapkan selamat.
Bila tidak, saya sarankan Anda untuk mencari ide bisnis lagi. 

SELAMAT BERUSAHA............SUKSES SELALU

TIPS MENJADI PENGUSAHA YANG SUKSES

Hidup adalah pilihan. Maka, teman2 mau menjadi apa juga menjadi pilihan. Karyawan, wirausaha, atau bahkan pengacara (pengangguran banyak acara). Yang terakhir jangan deh..:). Menjadi wirausaha pun ada pilihannya juga. Mau sukses atau mau gagal. Tapi saya yakin, setiap pengusaha pasti pernah mengalami yg namanya kegagalan. Nah, tinggal bagaimana cara kita meminimalkan kegagalan tersebut. Dalam arti kata lain, bagaimana kita memaintain agar menjadi pengusaha/wirausahawan yg sukses.
Sebenarnya banyak hal yg bisa dilakukan utk menjadi pengusaha/wirausahawan sukses. Salah satunya adalah dengan bergaul dan mempunyai banyak teman. Dengan mempunyai banyak teman, maka kita dengan sendirinya akan mempunyai networking yg bisa kita gunakan dalam berwirausaha. Karena dengan networking kita bisa memasarkan produk kita dengan lebih mudah dan pangsa pasar yg lebih luas. Selain itu, pertemanan juga akan membantu kita untuk instropeksi diri kita dan meminta masukan dari orang lain. Peluang usaha juga banyak muncul dari sebuah network yg bagus dan handal.
Kemudian, ketika niat dan kesempatan sudah ada, maka berani memulai adalah yg terpenting selanjutnya. Berpikiranlah positif dan yakin bahwa usaha anda akan sukses. Jangan terlintas dahulu kata2 gagal dan menyerah. Dan mencoba tidak ada salahnya. Pasti ada sesuatu yg positif yg dapat dijadikan pelajaran. Ketika usaha kita udah berjalan, maka jangan berpuas terlalu berlebihan. Belajar dan belajarlah selalu. Karena ilmu dan pengetahuan akan berkembang terus. Anda bisa belajar kepada orang2 yg sukses di bidang usaha anda. Atau kepada siapapun yg memberi nilai lebih.
Cinta. Yah,…cintailah pekerjaan dan usaha anda. Nikmatilah semua proses yg berjalan dari waktu ke waktu dengan tetap menjaga semangat tentunya serta berpikir positif. Apapaun hasil akhirnya dari usaha/bisnis anda, jangan lupa utk bersyukur. Syukuri perjuangan anda, prosesnya dan hasilnya. Insya Allah, semakin banyak bersyukur, rejeki akan semakin bertambah pula. Sekecil apapun hasilnya, syukurilah itu. Karena semua dimulai dari yg kecil.

Jumat, 18 Juni 2010

KARAKTER MENURUT GOLONGAN DARAH

Golongan darah A
-------------------
Biasanya orang yang bergolongan darah A ini berkepala dingin, serius, sabar dan kalem atau cool, bahasa kerennya.

Orang yang bergolongan darah A ini mempunyai karakter yang tegas, bisa di andalkan dan dipercaya namun keras kepala.

Sebelum melakukan sesuatu mereka memikirkannya terlebih dahulu. Dan merencanakan segala sesuatunya secara matang. Mereka mengerjakan segalanya dengan sungguh-sungguh dan secara konsisten.

Mereka berusaha membuat diri mereka se wajar dan ideal mungkin.

Mereke bisa kelihatan menyendiri dan jauh dari orang-orang.

mereka mencoba menekan perasaan mereka dan karena sering melakukannya mereka terlihat tegar. Meskipun sebenarnya mereka mempunya sisi yang lembek seperti gugup dan lain sebagainya. Dan sebenarnya cukup mudah terkena stress dan merasa tertekan.

Mereka cenderung keras terhadap orang-orang yang tidak sependapat. Makanya mereka cenderung berada di sekitar orang-orang yang ber'temperamen' sama.

Makanan yang cocok adalah hasil-hasil pertanian. Sayur,palawija, dll


- Golongan darah B
--------------------
Orang yang bergolongan darah B ini cenderung penasaran dan tertarik terhadap segalanya.

Mereka juga cenderung mempunyai terlalu banyak kegemaran dan hobby. Kalau sedang suka dengan sesuatu biasanya mereka menggebu-gebu namun cepat juga bosan.

Tapi biasanya mereka bisa memilih mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang di kerjakannya.

Mereka cenderung ingin menjadi nomor satu dalam berbagai hal ketimbang hanya dianggap rata-rata. Dan biasanya mereka cenderung melalaikan sesuatu jika terfokus dengan kesibukan yang lain. Dengan kata lain, mereka tidak bisa mengerjakan sesuatu secara berbarengan.

Mereka dari luar terlihat cemerlang, riang, bersemangat dan antusias. Namun sebenarnya hal itu semua sama sekali berbeda dengan yang ada didalam diri mereka.

Mereka bisa dikatakan sebagai orang yang tidak ingin bergaul dengan banyak orang.

Golongan darah B tidak suka sesuatu yang statis, dan mudah tertidur di mana saja. Satu hal yang bahaya, mereka juga rentan bunuh diri.

- Gologan darah O
--------------------
Orang yang bergolongan darah O, mereka ini biasanya berperan dalam menciptakan gairah untuk suatu grup. Dan berperan dalam menciptakan suatu keharmonisan diantara para anggota grup tersebut.

Figur mereka terlihat sebagai orang yang menerima dan melaksakan sesuatu dengan tenang. Mereka pandai menutupi sesuatu sehingga mereka kelihatan selalu riang, damai dan tidak punya masalah sama sekali. Tapi kalau tidak tahan, mereka pasti akan mencari tempat atau orang untuk curhat (tempat mengadu).

Mereka biasanya pemurah (baik hati), senang berbuat kebajikan. Mereka dermawan dan tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk orang lain.

Mereka biasanya di cintai oleh semua orang, "loved by all". Tapi mereka sebenarnya keras kepala juga, dan secara rahasia mempunyai pendapatnya sendiri tentang berbagai hal.

Dilain pihak, mereka sangat fleksibel dan sangat mudah menerima hal-hal yang baru.

Mereka cenderung mudah di pengaruhi oleh orang lain dan oleh apa yang mereka lihat dari TV.

Mereka terlihat berkepala dingin dan terpercaya tapi mereka sering tergelincir dan membuat kesalahan yang besar karena kurang berhati-hati. Tapi hal itu yang menyebabkan orang yang bergolongan darah O ini di cintai.

Bila berpacaran kadang mudah lepas kendali.

Makanan yan cocok adalah hasil buruan seperti daging dan unggas.


- Gologan darah AB
----------------------
Orang yang bergolongan darah AB ini mempunyai perasaan yang sensitif, lembut.
Mereka penuh perhatian dengan perasaan orang lain dan selalu menghadapi orang lain dengan kepedulian serta kehati-hatian.

Disamping itu mereka keras dengan diri mereka sendiri juga dengan orang-orang yang dekat dengannya.

Mereka jadi cenderung kelihatan mempunyai dua kepribadian dan susah ditebak apa maunya.

Mereka sering menjadi orang yang sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam.

Mereka mempunyai banyak teman, tapi mereka membutuhkan waktu untuk menyendiri untuk memikirkan persoalan-persoalan mereka.

Senin, 14 Juni 2010

Senjata Itu Bernama Manajemen (Bagian 4)

“Effectiveness is a habit; that is, a complex of practices. And practices can always be learned. Practices are simple, but always exceedingly hard to do well. They have to be acquired by practicing, and practicing, and practicing again.”
–Peter F. Drucker, 1967–

Karena cara bisa lebih dari 1001 banyaknya, dibutuhkan kriteria untuk memilihnya. Ini adalah rambu manajemen berikutnya. Cara yang dipilih mestilah yang efektif dan efisien. Nah, dua istilah ini tampaknya perlu mendapatkan porsi pembahasan agak luas. Demikian seringnya kata-kata “efektif dan efisien” digunakan dalam berbagai konteks, sehingga sering maknanya menjadi rumit dan tak jelas lagi, bahkan kadang-kadang agak konyol.

Ada pejabat atau pakar dalam wawancara televisi mengatakan, “cara itu memang efisien, namun tidak efektif.” Waduh! Bagaimana mungkin sesuatu bisa efisien jika tidak efektif? Meminjam istilah aljabar, efektifitas adalah necessary condition, sedangkan efisiensi adalah sufficient condition. Seluruh pilihan proses atau cara yang mampu mengantarkan kita pada tujuan disebut efektif. Dari berbagai alternatif proses atau cara tersebut, yang berbiaya paling rendah, adalah yang efisien.

Dalam urusan dengan action plan pribadi misalnya, banyak orang yang menuangkannya dalam bentuk bagan atau skema yang cantik dan canggih, dengan tampilan warna–warni memukau di gadget mereka. Namun seringkali keindahan dan kecanggihan itu menjadi tidak efektif karena tidak cukup disiplin untuk sering–sering merujuk pada action plan yang sudah mereka buat. Beruntung saya belajar dari guru manajemen saya, Taufik Bahaudin, tentang apa yang disebutnya stupid paper, sehelai kertas yang lusuh berlipat delapan, yang tak pernah luput dari saku kemeja beliau. Setiap terpikir ada sesuatu yang urgen untuk dilakukan, beliau tuliskan pada kertas itu. Sebaliknya, setiap ada to do thing yang selesai dikerjakan, beliau coret hal tersebut dari daftar.

Pernah saya bertanya pada beliau, mengapa harus kertas lusuh itu yang jadi tumpuan. Beliau kemukakan beberapa argumentasi. Pertama, ketika lembaran kumal itu dibuka, yang beliau lihat adalah sejumlah to do things yang menantang untuk diselesaikan, namun punya prioritas berbeda. Otomatis beliau terdorong untuk mencari mana to do thing yang paling urgen dituntaskan. Dengan bahasa yang sedikit canggih, kertas lusuh itu “memaksa” beliau berpikir logis dan sistematis. Tentu Anda ingat, ini rambu manajemen yang kedua.

Kedua, menurut beliau mencoret sebuah to do thing yang sudah berhasil dirampungkan punya kenikmatan psikologis yang sukar digambarkan dengan kata–kata dan bersifat addictive! Artinya, sensasi itu memprovokasi beliau untuk menuntaskan sejumlah to do things yang lain agar punya legitimasi untuk kembali mencoretnya dari daftar. Ketiga, mekanisme kertas lusuh itu, the stupid paper, begitu sederhana dan genuine. Implikasi, ketika menggunakannya kita fokus pada substansi, pada manfaatnya, dan tidak tergoda pada sejumlah kecanggihan “kosmetik” yang artifisial sifatnya.

Apakah jurus stupid paper ala Taufik Bahaudin itu efisien, itu perdebatan yang lain. Namun yang pasti ia menggambarkan efektifitas itu sama sekali tidak perlu rumit dan kelewat canggih. Disiplin pribadi adalah kata kuncinya.

Selanjutnya, bicara tentang efisiensi, tentunya berurusan dengan hitung–menghitung biaya. Namun perlu diingat, dalam menghitung biaya, bukan sekedar out-of-pocket expenses, biaya-biaya langsung yang dikeluarkan berupa uang kas. Harus diperhitungkan juga dengan cermat opportunity cost, nilai dari berbagai kesempatan dan peluang yang hilang, yang harus dikorbankan, jika kita memilih proses atau cara tersebut.

Harus dikalkulasi pula eksternalitas, yaitu berbagai kerugian yang diderita oleh pihak lain atau lingkungan jika kita menjalankan cara/proses tersebut. Contoh, sebuah pabrik sedang mempertimbangkan 2 alternatif cara pengolahan limbah, X dan Y. Cara X lebih mahal dibandingkan cara Y. Namun jika menggunakan cara Y yang lebih murah, limbah yang dihasilkan masih belum sepenuhnya aman bagi lingkungan. Jika demikian, pada saat menghitung biaya yang terkait dengan cara Y, harus diperhitungkan pula nilai kerugian yang timbul dari kerusakan lingkungan akibat limbah yang belum sepenuhnya aman tersebut. Dan jika itu dilakukan bisa jadi cara X lebih efisien, walaupun biaya langsungnya lebih mahal dibandingkan Y.

Bagaimana seseorang menyikapi eksternalitas tersebut disadari atau tidak juga membedakan “kasta” orang tersebut: apakah dia pemimpin sejati, atau sekedar eksekutif yang bekerja dengan kalkulasi bisnis jangka pendek. Pemimpin sejati punya tanggungjawab. Nilai itu tidak akan membiarkan dirinya mengambil keputusan apapun yang dampak sampingannya merugikan orang lain maupun lingkungan yang lebih luas. Buat pemimpin sejati, kebermanfaatan bagi manusia dan kemanusiaan adalah harga mati yang tak bisa ditawar.

Senjata Itu Bernama Manajemen (Bagian 3)

“Hanya orang gila yang mengharapkan hasil yang berbeda dari cara–cara yang sama.”
–anonimus–

Saya punya suatu kepercayaan sederhana mengenai pemimpin dan kepemimpinan. Bagi saya, kualitas kepemimpinan seorang pemimpin diukur dari karya, bukan orasi atau wacana, walaupun kemampuan berorasi mungkin salah satu skill penting bagi pemimpin. Lihat saja pernyataan Allah SWT di dalam Al Qur-an: “Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu.’ Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” [QS. At-Taubah, 9: 105]

وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿١٠٥﴾

Simak juga peringatan keras Allah SWT di bagian lain dari Kitab Suci-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” [QS. Ash-Shaff, 61: 2-3]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴿٢﴾ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴿٣﴾

Paradigma manajemen yang sehat merupakan modal dasar untuk mampu memimpin perubahan transformasional dengan sukses. Berpikir menggunakan manajemen membuat pemimpin mampu melukiskan peta jalan (road map) perubahan yang akan mengantarkan komunitas yang dipimpinnya dari posisi here and now menuju the future dreamland. Kualitas berpikir manajemen pula yang akan dengan jelas membedakan cita-cita dari sekedar angan-angan, vision dari wish.

Tanpa kemampuan berpikir manajemen banyak pemimpin menjadi tak ubahnya sekedar orator atau filosof, bahkan provokator, yang trampil menuangkan mutiara pemikiran yang progresif-revolusioner dalam kata-kata bernas, baik dalam pidato yang menggelegar maupun tulisan yang menghujam, namun tak kunjung berhasil mewujudkan satupun gagasan hebat dalam realita komunitasnya. Ketika pemimpin model orator-filosof ini berpidato, orang-orang takjub terpana menyimaknya. Hati mereka tergetar. Mereka merasa fatwa-fatwa sang pemimpin mencerahkan pikiran dan menyegarkan semangat. Mereka terbang ke langit impian. Jantung mereka berdegup kencang. Darah mereka menggelora. Rasanya tak sabar lagi untuk menaklukkan dunia. Tapi apa jadinya ketika pidato itu selesai? Ketika mereka harus kembali ke dunia nyata? Saat mereka berhadapan lagi dengan realita yang kelewat jauh dari idealita? Mereka ibarat membentur tembok tinggi, atau bersua dengan jalan buntu, karena sang pemimpin tak kuasa menunjukkan peta jalan menuju negeri impian tersebut.

Betul bahwa pemimpin mesti visioner. Namun pemimpin juga harus transformatif, mampu mengurai visi tersebut menjadi sejumlah tonggak antara, seraya berperan sebagai sais yang memacu kuda-kudanya untuk menarik kereta berpindah dari satu tonggak ke tonggak berikutnya, demikian seterusnya, sampai tiba di terminal tujuan.

Di bagian sebelumnya telah kita diskusikan dua rambu yang pertama dalam manajemen, yaitu proses, serta sistematik dan logis. Apakah setiap proses yang tersusun dengan sistematik dan didasarkan atas suatu logika tertentu otomatis dapat disebut sebagai manajemen? Nanti dulu. Belum tentu. Perlu digarisbawahi bahwa pemimpin memanfaatkan manajemen, bukan tenggelam dalam kompleksitas manajemen.

Saya punya seorang teman. Sebut saja namanya Anto. Julukannya Mr. Sisdur, alias Tuan Sistem dan Prosedur, karena Anto memang serba teratur. Hampir semua hal dalam hidup Anto ada protokolnya, ada prosedurnya, dan hampir-hampir tak ada yang berubah. Namun Anto sering terlihat tidak bahagia. Keningnya sering berkerut. Mukanya ditekuk. Demikian itu ekspresi standarnya manakala berhadapan dengan situasi di luar perkiraannya. Kegandrungan pada sistem dan prosedur membuat Anto sama sekali kehilangan keluwesan menghadapi ketidakpastian.

Lebih seru lagi, sistem dan prosedur tersebut terus beranak-pinak semakin banyak. Kian hari kian tak jelas ujung pangkalnya. Misalnya, sesuatu dalam kamus Anto harus dikerjakan menurut prosedur A, namun kita ganti dengan cara B, dipastikan dia akan meledak alias marah besar. Jika kemudian kita bertanya, mengapa harus A dan tidak boleh B? Jawaban Anto, ya karena sudah begitu semestinya! The procedure has to be like that because it is the procedure! Macet total, ibarat jalur Pantura di musim lebaran.

Artinya, manajemen bukan sekedar proses yang sistematik dan logis. Ia juga harus ditujukan untuk mencapai pre-determined goal(s), tujuan, atau tujuan-tujuan, yang telah ditetapkan sebelum proses itu dimulai. Tujuan tersebut tentunya bukan begitu saja dipetik dari angin, melainkan diturunkan, diterjemahkan, juga secara sistematik dan logis, dari visi besar sang pemimpin.

Kesadaran dan penghayatan penuh mengenai tujuan inilah yang membuat pemimpin menjadi sosok yang dinamis, yang memadukan dua sisi yang seolah paradoksal. Di satu sisi ia sangat teguh – konsisten, konsekuen, dan presisten – dengan tujuan yang ingin dicapainya. Namun di sisi lain ia sangat lentur dalam memilih dan menentukan cara – termasuk sistem dan prosedur – yang diyakininya paling mungkin membantunya mencapai tujuan tersebut. Seperti seorang pengemudi. Mungkin menjadi tidak begitu penting mempersoalkan rute mana yang diambil – sejauh tidak melanggar rambu-rambu lalu lintas tentunya – sepanjang mobil yang dikemudikan mampu memindahkan para penumpang dari tempat asal ke tempat tujuan.

Senjata itu Bernama Manajemen (Bagian 2

“In the last analysis management is practice.
Its essence is not knowing, but doing.
Its test is not logic, but result.
Its only authority is performance”
– Peter Drucker –

Si Fulan yang punya toko kelontong lelah hidup seadanya. Ia ingin agar dagangannya laris-manis, agar ia segera “naik kelas” menjadi orang kaya. Atas saran beberapa teman sekampung ia pergi ke sebuah dusun di kaki Gunung Lawu, menemui seorang dukun yang konon sakti mandraguna. Dukun itu merapal beberapa mantra. Tentunya ditingkahi oleh asap kemenyan dan suasana magis yang mencekam. Si Fulan juga dititahkan untuk mandi kembang tujuh rupa, di samping dioleh–olehi beberapa jenis jimat. Ternyata “proses” yang dijalani si Fulan memang ampuh. Tak berapa lama orang berbondong-bondong membeli dagangannya. Dapatkah dikatakan si Fulan telah menerapkan manajemen? Tentu tidak. Bukankah ia telah menempuh proses? Ya. Bahkan proses yang lumayan “serius” dan “berat.”

Namun proses bukanlah satu-satunya rambu manajemen. Ada rambu yang kedua, yaitu sistematis dan logis. Bisa saja, walaupun agak dipaksakan, dikatakan bahwa proses yang dilalui oleh Fulan bersifat sistematis. Namun bagaimanapun tidak logis. Logika ilmu pengetahuan, kecuali ilmu sihir tentunya, tidak dapat menjelaskan apa hubungannya merapal mantra, mandi kembang, mempersembahkan sesajian, atau menyimpan jimat, dengan perniagaan si Fulan yang jadi marak dan meriah. Bahkan sistematis pun sebenarnya tidak. Karena resep yang diberikan si mbah dukun kepada si Fulan konon tergantung pada apa yang dibisikkan para peliharaannya ketika si Fulan menghadap. Artinya, kalau di kemudian hari ada pasien lain, walaupun dengan kebutuhan yang sama, sangat boleh jadi si mbah akan menuturkan jalan keluar yang berbeda. Intinya, tak ada pola yang menghubungkan antara keluhan pasien dengan treatment yang diberikan. Dalam kacamata agama, perbuatan si Fulan adalah syirik. Dalam sudut pandang manajemen, ini lagi-lagi bentuk mismanagement!

Dalam kehidupan sehari-hari yang lebih umum kita lihat betapa banyak masalah, kekusutan, kekacauan, kesimpang-siuran yang membuat masyarakat kehilangan kebahagiaan, ternyata bersumber dari proses – bentuknya bisa berupa sistem, mekanisme, prosedur, aturan, dan lain-lain – yang tidak sistematis (baca: acak-acakan, melompat-lompat, tidak punya alur yang masuk akal), dan juga tidak cukup ditopang oleh dasar logika yang sehat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Beberapa waktu yang lalu saya punya tugas mengisi training di Surabaya. Sayangnya saya terlambat tiba di check-in counter Bandara Soekarno–Hatta karena taksi yang saya tumpangi mengalami pecah ban di jalan tol. Karena belum pernah mengalami hal tersebut sebelumnya, saya bertanya kepada petugas dari airline terkait mengenai apa yang semestinya saya lakukan. Hasilnya, saya pusing! Saya di ping-pong dari satu counter ke counter yang lain, dari satu orang ke orang yang lain, dari satu loket ke loket yang lain. “Coba bicara pada Mbak yang di sana Pak.” “Coba ke loket reservasi Pak.” “Coba ke counter nomor 24 Pak.” Astagfirullah! Mbak yang bertugas di loket reservasi melayani saya dengan wajah galak, suara ketus, dan gaya setengah hati. “Pak, karena terlambat, jika Bapak ingin dimasukkan ke flight berikutnya Bapak terkena denda 75% dari harga tiket plus biaya up-grade sebesar sekian rupiah, sehingga totalnya sekian rupiah. Nanti dibayar di counter 24.” What?! Lebih dari dua kali lipat harga tiket saya sebelumnya!

Lalu, sesuai petunjuk si Mbak yang “pedas” itu saya kembali ke counter 24. Mbak yang ada di sana – paling tidak dia jauh lebih ramah – menanyakan berapa biaya tambahan yang dikenakan pada saya. Mendengar jumlah yang saya sebutkan, Mbak yang ramah itu berkata, “Wah, Bapak tidak perlu bayar sejumlah itu. Cukup setengahnya saja kepada kami. Di sini nama Bapak sudah saya tuliskan. Dan statusnya sudah saya buat CF (confirmed) untuk penerbangan berikut jam 13:30. Bapak tinggal datang. Sebutkan nama, bayar, dan berangkat.” Ajaibnya, pada saat saya datang lagi ke counter 24 menjelang pukul 13:30 “Miss Ramah” itu tak ada di sana, dan nama saya tidak tercantum di dalam daftar cadangan, apalagi dengan status confirmed. Macet bukan?! Alhasil, saya gagal berangkat ke Surabaya pada hari itu.

Mari kita bayangkan, apa derita umat, masyarakat, dan bangsa, jika mereka yang berada dalam posisi memimpin tidak punya kemampuan berpikir proses secara sistematis dan logis? Ya, mungkin mirip sekali seperti kondisi kita hari-hari ini